Siang ini berjalan dengan panas. Jujur, hal ini sangat menyiksa. Apalagi rumahku belum diplafon. Karna masih terbilang baru.
Keadaan yang panas memaksaku pergi ke kamar ibu. Sebab hanya di sana terdapat kipas angin. Obat bagi cuaca yang bikin gerah.
Lama berselang setelah baring di samping ibu, aku dan ibu terlibat dalam sebuah percakapan. Ibu yang memulainya. Percakapan yang membangkitkan nostalgia masa lalu.
Ibu bercerita tentang masa kecilku di rumah kami yang dulu. Rumah sebelum yang sekarang. Rumah antik dengan segala kenangannya. Rumah yang menjadi saksi perjuangan ayah-ibuku merintis usaha sampai sukses seperti sekarang.
Di rumah kecil itu, kata ibu, aku pernah melakukan shalat sendiri. Khusyu' dengan bacaan-bacaanya. Kira-kira kisaran kelas 3 SD. Betapa solehnya aku dulu kata ibu. Kau ingat tidak? Tanya ibu. Iya. Aku menjawabnya sambil cengar-cengir. Bagaimana tidak, itu sangat kontras dengan sekarang. Haha.
Kemudian kata ibu, bukhori kecil juga punya kebiasaan selalu pergi mesjid ketika bulan ramadhan. Sambil menenteng aqua botol. Dan itu, kata ibu, aku jalani dengan penuh suka ria. Bahkan menurut kesaksian salah seorang tetangga, ia mengatakan kepada ibu dalam bahasa kaili: Naasa mpu anamu loku nosambaya maghribi ri masigi. Nanggeni ue sabandola. Sajada nipauntu ri vinga. (Senang betul itu anakmu pergi sembahyang maghrib di mesjid. Bawa air sebotol. Sembari sajadah di punggung).
Entah apa motif ibu menceritakan itu. Yang jelas aku hanya bisa tertawa tipis mendengarnya. Sembari berdoa semoga bisa kembali seperti itu setelah sekarang mengalami keterlemparan spiritual yang terlalu jauh. Haha

0 Comments