Adik kandungku yang kedua baru saja mengeluarkan atau membeli motor baru. Hal itu agar memudahkan aktivitas kuliahnya nanti. Jadi gak perlu merasa kesusahan jika ingin pergi ke sana kemari.
Adikku baru saja lulus SMA tahun ini. Dari sebuah pesantren modern di Sulawesi Tengah. Sekarang ia lagi-lagi sibuknya menyiapkan apa-apa saja yang perlu disiapkan bagi seorang yang ingin mendaftar kuliah.
Kembali soal motor. Sebagaimana kebiasaan di kampung, setiap motor baru harus diadakan acara selamatan. Karena memang kampung kami masih berpegang erat pada tradisi. Apalagi mayoritas warga di kampung kami adalah Alkhairat. Organisasi keagamaan yang semacam NU begitulah. Yg ramai dengan ritual ritualnya.
Hal ini menjadi sedikit problematis terutama bagi papaku yang Muhammadiyah tulen. Ciri khas beragamanya tidak terlalu akrab dengan ritual ritual semacam itu. Dan bahkan kalo aku liat, papa memang tidak mau akrab wkwk
Akhirnya bertanyalah papa kepadaku: Bagaimana menurutmu tradisi selamatan begitu? Aku jawab: Tidak masalah sih. Cuma kan kita dua ini jarang pimpin acara yang begitu. Jadi kayaknya kita harus ubah saja selamatannya jadi syukuran. Kegiatannya makan makan dan tanpa baca doa. Nanti kita beli lah ikan batu di Batusuya. Enak itu! Hahaha
Papaku menyanggah: Jangan begitu. Nanti mamamu marah atau merajuk. Dia kan tidak Muhammadiyah seperti kita. Masih cenderung ke Alkhairat. Jadi tetap saja adakan doa. Tapi doa versi kita.
Aku mengiyakan dan toss sama ayah.
Setelah itu pikiranku melayang jauh ke buku-buku yang pernah aku baca. Dan aku ingat, ada cerita menarik dari KH. AR. Fachruddin yang kira-kira mirip dengan keadaan kami sekarang.
Aku menceritakan kepada ayah: KH. AR pernah diundang untuk memimpin acara yasinan di sebuah kampung NU. Beliau di situ pusing. Gimana ini. Soalnya beliau gak pernah mimpin acara yasinan sebelumnya. Nah, akhirnya beliau punya ide. Ditanyakanlah jamaah: Di sini sudah hafal semua kan surah yasin? Iya, jawab jamaah serentak. Akhirnya KH. AR bilang: Kalo gitu ya sudah. Kita ganti saja bentuk yasinannya. Kita kaji surah yasin ini ayat per ayat.
Papa tertawa mendengarnya. Begitu pun dengan aku. Akhirnya kami tertawa bersama.
Hahahaha.....

0 Comments