Jika ada nikmat yang patut untuk aku syukuri dalam hidup ini, maka dengan mantap aku akan menyebutnya: ayah!


Ya, ayahku. Dialah hal yang paling kusyukuri kehadirannya di alam ini selain ibuku. Ayah telah mengajarkanku banyak hal. Ketegasannya menjadi hal yang paling kuingat dan kukenang. 

Dulu ketika masih kecil, aku sangat membencinya. Bukan pribadinya, tapi sikap tegasnya. Aku bahkan berkali-kali mengeluh karena mendapat ayah yang tegas. Kepolosanku telah mengantarku pada kebencian yang berlebihan pada sikap tegasnya. Bahkan jika aku menangis di hadapan ibu, aku akan selalu mencoba membandingkannya dengan ayah dari sepupuku, kakak kandung dari ibuku. 

Pamanku tersebut berbanding terbalik dan begitu kontras dengan ayah. Jika ayah adalah orang yang tegas dan pemarah, maka pamanku ini adalah orang yang sangat sabar dan lembut dalam menghadapi anak-anaknya. 

Aku terus membandingkan hal tersebut. Tak jelas sampai kapan aku melakukannya. Mungkin sampai aku keluar dari pesantren dan mulai bersekolah di luar. 

Dulu benci sekarang cinta. Itulah yang mungkin menggambarkan perasaaanku saat itu. Sikap tegasnya yang dulu begitu kubenci ternyata diam-diam aku syukuri. Bahkan bangga pernah dididik tegas. 

Ketika melihat adik-adikku dikerasi dan ditegasi di rumah dan kulihat mereka geram dan dongkol, dalam hati aku hanya bilang: nanti kalian juga paham dan bersyukur pernah dididik seperti itu. 

Dididik tegas akan membuat kalian tidak manja. Akan membuat kalian dapat survive terhadap kerasnya hidup. Ayah adalah pribadi dengan langgamnya yang lugas dan tidak bertele-tele. Jika A ya A. Tidak boleh B.

Belakangan aku juga sadar. Sikap ayahku yang ternyata tegas bisa berubah. Tepatnya ketika aku telah kuliah. Berbicara dengan ayah tidak lagi seperti dulu. Satu arah dan sifatnya intruksi. Sekarang ayah telah jauh berbeda. Gaya bicaranya padaku sudah lebih bersahabat dan sifatnya dialog. 

Ayah menjadikanku seperti temannya. Tidak memaksa dan malah memberi kebebasan. Memberi arahan jika punya pandangan lain atas apa yang menjadi rencanaku. Kontras dengan sifatnya dulu. 

Perubahan sikapnya membuatku teringat pada teori pendidikan populer. Di mana ketika anak berumur 0-7, layani ia seperti raja. Ketika berusia 7-20, jadikan ia berdisiplin. Adapun jika ia telah menginjak umur 20-40, perlakukanlah ia sebagai teman. Persis seperti yang dilakukan ayah. 

Bukan hanya mendidikku dengan tegas. Ayah juga adalah orang yang sangat berkontribusi dalam menumbuhkan minat baca dalam diriku. Waktu masih kelas 2 SMP, aku sudah diperkenalkan dengan buku-buku karangan Prof. Quraish Shihab dan Prof. Komaruddin Hidayat. Sesuatu yang dulu aku anggap biasa-biasa, namun menjadi 'wah' ketika berada di bangku kuliah. Tidak banyak orang yang beruntung sepertiku. Memiliki ayah yang telah mengakrabkan buku pada anak-anaknya sejak dini. 

Jelasnya, ada banyak hal yang kusyukuri berkat kehadiran ayah. Sulit untuk menggambarkannya dalam tulisan. Sosok yang bukan hanya kaya akan wawasan namun juga pengalaman. Dengan keduanya ia mengarahkan anak-anak tentang apa-apa yang harus disiapkan dan dilakukan serta membangun rule yang dengan melewatinya, anak-anaknya dapat 'menyalami' masa depan dengan gagah dan tanpa rasa was-was. Karena telah tampil sebagai orang sukses dan membanggakan.