Sore tadi, ketika saya membuat status
di WhatsApp seperti ini, “#HijabDay dan #NoHijabDay: dua gerakan yang sama-sama
tidak perlu”, ada beberapa teman yang kemudian menanyakan alasannya (alasan
kenapa tidak perlu). Ada yang karena keberatan dan ada pula yang memang murni karena
ingin tahu.
Kepada seorang teman yang bertanya
“kenapa?” pada status saya tersebut, bukannya memberikan jawaban, saya malah
melemparkan pertanyaan balik, “Buat apa?”. Untungnya dia memberikan jawaban, bukan
malah membantah dengan pernyataan, “Saya kan bertanya ke kamu. Kenapa malah
bertanya kembali?”.
Teman tersebut menjawab bahwa alasan
diadakannya #HijabDay, setidaknya menurut yang ia lihat dan pahami adalah “May
be mengampanyekan bahwa hijab itu identitas muslimah, bisa juga (jadi)
konten motivasi hijrah kalau (yang) aku lihat di IG komunitas hijrah Jember”.
Lewat tulisan ini, untuk menuntaskan keingintahuan
dan rasa penasaran kawan-kawan, saya akan mencoba menjabarkan alasan mengapa
saya membuat statement demikian. Namun terlebih dahulu, saya ingin
menjelaskan sejarah tentang kemunculan dua gerakan tersebut: #HijabDay ataupun
#NoHijabDay.
Sebab Lahirnya Gerakan #HijabDay
Saya sengaja menempatkan pembahasan
sejarah gerakan #HijabDay lebih dulu ketimbang #NoHijabDay. Karena jika
dirunut, #HijabDay muncul pada 1 Februari tahun 2013 oleh Nazma Khan, sedangkan
#NoHijabDay baru muncul tahun 2017 yang dipelopori oleh wanita-wanita Iran.
Pada awalnya gerakan #HijabDay lahir
sebagai respon atas ketidakadilan yang dialami oleh wanita-wanita muslimah yang
berada di Amerika. Mereka mendapatkan diskriminasi, pelecehan, dan subordinasi.
Misalnya mereka sering diejek-ejek dengan sebutan ninja atau batman.
Di Amerika, kata Nazma, ada sebuah
pandangan yang memandang hijab sebagai bentuk perampasan hak kalangan perempuan.
Makanya tak mengherankan jika kemudian jilbab menjadi sasaran empuk orang-orang
yang tidak paham ajaran Islam. Selain itu, mereka juga menjadi korban dari
Islamophobia. Mereka mendapatkan pelecehan, ujaran yang bernada rasis dan tindakan
tidak pantas lainnya.
Atas perlakuan itu, Nazma kemudian
terinspirasi untuk menggelar aksi solidaritas yang mengajak seluruh wanita,
termasuk yang non-muslim, agar mengenakan hijab. Ajakan itu dimaksudkan supaya
seluruh wanita, terutama yang bukan Islam, merasakan apa yang dirasakan oleh
saudari muslimahnya yang kemudian dikenal dengan gerakan #HijabWorldDay
Tak disangka gerakan yang dipelopori Nazma
Khan ini mendapat simpati dari dunia internasional. Bentuk simpati datang dari
berbagai negara: Inggris, Australia, India, Pakistan, Prancis dan Jerman. Dukungan
rata-rata berasal dari negeri minoritas muslim. Simpati mereka bukan didasarkan
atas kesamaan identitas, melainkan murni didorong oleh rasa kemanusiaan yang
prihatin melihat bentuk diskriminasi, subordinasi, dan tindakan rasisme.
Latar Belakang Munculnya #NoHijabDay
Jauh sebelum dikenalnya gerakan #NoHijabDay yang
diinisiasi oleh Yasmine Mohammed, gerakan yang serupa telah muncul di Iran pada
tahun 2017. Gerakan itu diinisiasi oleh wanita-wanita Iran. Bahkan konon,
gerakan itu bukanlah gerakan yang pertama kali. Sebelumnya aksi yang sama telah
dilakukan berkali-kali.
Hal itu
bermula setelah kepemimpinan Reva Pahlevi runtuh dan jatuh di tangan Ayatullah
Khomaini setelah pecahnya Revolusi Iran. Oleh Khomaini, aturan-aturan negara diubah
secara drastis. Dari yang dulunya sekuler menjadi Islam oriented (berorientasi
Islam). Salah satunya adalah aturan mengenai pakaian wanita.
Saat itu Ayatullah
Khomeini sebagai pimpinan tertinggi Iran, mewajibkan kepada seluruh wanita
untuk mengenakan hijab. Hal yang berbanding terbalik dengan keadaan ketika Reza
Pahlevi menjabat, di mana para wanita justru dilarang mennggunakan hijab. Dalam
hemat saya, peraturan yang diberlakukan oleh keduanya sama-sama berlebihan.
Sebab terlampau ‘bernafsu’ untuk mengurus bagian privat dari warga negara.
Merasa
dirampas hak dan kebebasannya oleh Ayatullah Khomeini dengan adanya peraturan
tersebut, wanita-wanita Iran berkumpul dan kemudian melakukan aksi
besar-besaran untuk mendemo Khomaini atas kebijakannya yang dinilai mengekang
para wanita Iran. Aksi ini kemudian mendapat perhatian dari dunia
Internasional. Karena dilakukan dengan cara yang provokatif.
Caranya ialah
mereka melepas hijabnya di taman dan kemudian menggantungkannya di pohon.
Setelah itu, mereka mengunggahnya ke media sosial masing-masing. Inilah yang
saya kira membuat informasi aksi tersebut segera tersebar luas. Selain itu,
cara yang juga digunakan adalah perempuan melakukan atraksi dengan melepaskan
hijabnya di dalam mobil. Kemudian, dengan mengangkat tongkat, ia kibarkan
hijabnya di kaca depan mobil sambil berkata,
“This
is my flag of freedom. As Iranian women, I like to choose what I wabt to wear.”
Dari
sinilah gerakan #NoHijabDay itu dimulai. Kemudian pada tahun ini, gerakan itu
dilanjutkan oleh Yasmine Mohammed dengan kampanye #NoHijabDay di media sosial.
Dan hal itu mendapatkan momentumnya serta viral di seantero maya. Sebab
digaungkan pada saat bersamaan dengan diadakannya #HijabDay pada tanggal 1
Februari kemarin sebagai gerakan kontra.
Mengapa Kedua Gerakan Itu Tidak Perlu?
Sejujurnya,
saya sangat menaruh simpatik pada kedua gerakan tersebut, terutama setelah
membaca dan mengetahui sisi historis terkait sebab lahirnya. Keduanya muncul
sebagai respon, gerakan perlawanan dan pemberontakan terhadap ketimpangan yang
ada.
#HijabDay
sebagai gerakan perlawanan terhadap segala bentuk diskriminasi, subordinasi,
dan perlakuan yang tidak adil terhadap wanita-wanita muslimah yang mengenakan
hijab, khususnya yang berada di Amerika. Sementara #NoHijabDay muncul sebagai
pembangkangan terhadap kebijakan penguasa yang dianggap terlalu berlebihan
dalam mengurus ruang privat warga negara, mengekang wanita dan merampas
kebebasannya.
Tetapi
setelah apa yang terjadi saat ini, sebagaimana yang saya pantau di media
sosial, dua gerakan itu tumbuh menjadi bringas dan membuat adanya aksi ‘saling
cakar’. Implikasi dari aksi saling cakar tersebut adalah timbulnya ketegangan
antara pihak wanita yang mengenakan hijab dan yang tidak.
Momen
yang seharusnya menjadi peringatan besar keduanya justru menjadi ajang saling
olok. Kubu yang mengenakan hijab mengatakan kubu yang tidak mengenakan sebagai
orang yang menentang Allah, telah keluar dari jalan yang lurus, dan
sesat-menyesatkan. Sebaliknya, pihak yang tidak mengenakan hijab menyebut
mereka yang mengenakan sebagai orang kuno, tidak merdeka, terjajah oleh
doktrin-doktrin patriarki dan tuduhan lainnya.
Namun
untuk gerakan yang kedua ini, saya menyimpan sedikit kritik. Saya hanya merasa
heran saja ketika mereka yang katanya ingin memperjuangkan kebebasan wanita
untuk mengenakan pakaian yang ia mau, malah tidak menerapkan prinsip mereka
yang demikian ketika berhadapan dengan wanita berhijab. Bukannya menghargai
kebebasan mereka untuk mengenakan hijab, mereka malah melemparkan
tuduhan-tuduhan yang membuat saudari wanitanya inferior dan merasa direndahkan.
Sesuatu yang sangat tidak adil.
Atas
semua efek yang ditimbulkan kedua gerakan tersebut, rasa simpatik saya kemudian
berkurang. Sehingga merasa bahwa kedua gerakan itu ada baiknya tidak perlu diadakan.
Karena hanya menimbulkan keresahan dan perpecahan di tengah masyarakat kita.
Padahal baik berhijab dan tidak berhijab adalah pilihan yang harus dihormati
dan dihargai. Miris!

0 Comments