Malam ini IMM Ciputat
sangat bersuka ria. Salah satu senior dan alumni kebanggaannya, yang kini telah
menjadi tokoh nasional dan Sekretaris Umum MUI (Majlis Ulama Indonesia),
Ayahanda Anwar Abbas bertandang ke Aula Fastabiqul Khairat. Oleh beliau, langit Ciputat yang sebelumnya mendung
kini menjadi cerah berkat kedatangannya.
Selain untuk
bersilaturahmi dan melihat keadaan Ciputat, yang dalam ungkapan beliau adalah
tempat terbaik di dunia ini setelah rumah, beliau oleh IMM Ciputat dijadwalkan
untuk menjadi narasumber pada acara sharing bersama anak-anak asrama putra IMM.
Berceritera tentang pengalaman dan berbagi motivasi serta inspirasi.
Ada banyak sebenarnya pesan
dan nasehat yang beliau berikan, tapi mungkin saya akan memberikan beberapa di
antaranya yang saya angggap penting. Ini setidaknya ada tiga poin:
Pertama, relasi. Layaknya seorang
kakak, beliau menasehati kami agar memperbanyak teman dan memperluas pergaulan.
Jangan batasi pergaulan hanya dengan anak IMM saja. Bergaullah dengan siapa
saja, selama itu baik untuk perkembangan dan kemajuan kalian. Ia bercerita, yang
medorong dan menariknya untuk jadi Sekretaris Umum MUI adalah temannya dari NU
(saya lupa namanya). Hal ini, kata beliau, tidak akan terjadi kalo saya tidak
menjaga hubungan dengan beliau dan beliau juga menaruh kepercayaan pada saya.
Ada satu pesan beliau yang
saya anggap sangat menusuk dan menemukan relevansinya dengan kondisi pertemanan
saat ini. Ia mengatakan, “Dalam menjalin hubungan (relationship) dengan orang
lain, kita jangan sampai berpikir pragmatis. Segala hubungan harus
diorientasikan untuk jangka panjang, bukan jangka pendek. Artinya pagi
berteman, sore sudah lepas. Karna sudah gak ada kepentingan. Jangan sampe
begitu.”
Pesan beliau ini sangat
elok untuk kita amalkan. Karna saat ini begitu banyak pertemanan yang kandas di
tengah jalan karna sudah tiadanya kepentingan. Artinya ia dalam berteman karna
memang ada kepentingannya saja.
Kedua, berlatih hidup susah. Ia
mengatakan, “Saya itu anak keluarga orang kaya. Bapak dan ibu saya orang kaya.
Kakak saya juga orang kaya. Tapi selama kuliah, saya hanya dikasi uang sedikit.
Akhirnya saya itu jarang beli di warung. Paling beli bahan mentah seperti sayur
dan beras, terus dimasak di asrama. Sambal saya ulek-ulek sendiri. Saya ingat
banget kenangan itu. Dan siapa sangka, hanya dengan bermodal itu, saya alhamdulillah
akhirnya bisa jadi Sekretaris Umum MUI.”
Dari cerita beliau ini
kita bisa memetik pesan kehidupan, bahwa berlatih untuk menderita sejak muda
itu penting. Buktinya dari situ beliau di kemudian hari bisa bersenang-senang.
Berbeda mungkin dengan orang-orang yang sejak mudanya sudah terbiasa berleha-leha
dan foya-foya karna hidupnya serba cukup dan orang tuanya bergelimangan harta.
Banyak dari mereka yang
kemudian bermental manja dan tidak siap menghadapi kerasnya kehidupan. Akhirnya
kehidupan mengalahkan mereka. Mereka jatuh dan tak bisa melanjutkan apa yang
sudah diwarisi orang tuanya.
Ketiga, memuliakan orang tua. Beliau
mengingatkan kami agar jangan pernah durhaka dan sombong kepada keduanya.
Selalu hormati dan muliakan keduanya. Doakan mereka di setiap usai solat
kalian.
Terkait hal ini, beliau
pengalaman yang menarik. Yaitu pengalaman dengan dua orang anak yang tumbuh
besar dalam keluarga kaya raya. Satu dari dua anak tersebut, kala orang tuanya masih
hidup, hidupnya senantiasa diisi dengan berbagai macam kesenangan dan kekayaannya
menjulang terus ke atas. Sementara saudaranya hanya biasa-biasa saja. Tidak
kaya dan juga tidak miskin. Dia hidup di rumah orang tuanya dan merawat
keduanya yang kini mulai renta.
Namun di kemudian hari,
kata beliau, ada hal yang mengejutkan. Ketika orang tua kedunya meninggal, anak
yang kaya ini jatuh dan yang sederhana tadi malah mencuat ke atas. Beliau
awalnya heran. Tapi tak lama kemudian ia sampai pada kesimpuan dan berkata
bahwa ini adalah berkah dan balasan dari Allah karna dia sudah merawat orang
tuanya.
Di sini kita dapat
mengambil ibrah (pelajaran), bahwa dalam setiap perjuanganmu menuju
sukses dan menggapai cita-cita, jangan lupa untuk selalu memuliakan dan
menghormati orang tuamu. Karna insya Allah, berkat syafaat dari keduanya kau
akan lebih cepat dalam perjalananmu menuju sukses dan menggapai seluruh cita-cita
dan harapanmu.
Kiranya tiga poin penting inilah
yang dapat saya berikan dari catatan sharing semalam. Sebagai penutup, beliau
pada sesi sharing semalam tak lupa juga mengatakan bahwa apa yang diraih dan
didapatinya selama ini tidak lepas dari peran IMM. IMM telah banyak memberikan pembelajaran
dan pengalaman selama menjadi mahasiswa di UIN Ciputat. Akhirnya, beliau
mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada IMM atas segala yang
telah diberikannya.

0 Comments