Iran sejak dulunya sudah dikenal sebagai tempat
beradanya peradaban dan imperium besar. Sebut saja Persia.
Mereka dikenal akan
keunggulannya di bidang sastra, arsitektur dan pemerintahan. Konon, sistem
pemerintahan yang diterapkan oleh Umar bin Khattab pada saat ia menjabat
sebagai khalifah banyak mengadopsi dari sistem Persia. Meskipun baru analisa
sementara, tetapi hal ini sudah cukup memberikan gambaran kepada kita bahwa
Iran betul-betul telah mengalami peradaban yang gemilang. Bahkan terus
berlanjut hingga sekarang
Iran, negeri yang dikenal sebagai negeri 1001 Mullah ini, adalah negeri dengan segudang pretasi dan kebudayaan.
Budaya mereka betul-betul mengakar pada diri bangsanya. Mengggunakan analisis
Nurcholis Madjid, Iran adalah satu-satunya negeri Islam
yang tidak terkena Arabisasi pasca tersebarnya Islam.
Mereka tetap komit dan teguh pada kebudayaannya.
Ini semua karna adanya rasa percaya diri dari mereka terhadap kebudayaannya.
Mereka tidak ingin kebudayaannya digerus dan digantikan oleh budaya luar. Saya
berharap Indonesia bisa mencontohinya.
Ketika Islam mencapai puncak peradabannya pada
zaman Harun al-Rasyid dan Al-Makmun, Iran juga ikut menjadi saksi sejarah dan
banyak memberikan kontribusi. Iran pernah menjadi ibu kota pemerintahan dan
melahirkan banyak pemikir-pemikir yang hebat dan cemerlang. Di antaranya ialah:
Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Nashiruddin at-Thusi.
Bahkan setelahnya, ketika negara-negara muslim
lain mengalami ke-mandeg-an dalam melahirkan dan memproduksi filsuf-filsuf,
Iran masih konsisten dan tetap eksis. Di antara produknya ialah: Suhrawardi
dengan pemikiran isyraqiyah-nya, Mulla Sadra dengan hikmah
muta’alliyah-nya dan Murtadha Mutahhari dengan tawaran falsafatuna-nya.
Perkembangan Iran Masa Kini
Kemarin fakultas kami (fakultas ushuluddin)
mengadakan seminar internasional dengan mengusung tema, “Peran Universitas dan
Cendekiawan Dalam Membangun Peradaban Baru Islam”. Pembicara yang diundang
cukup berkelas: Prof. Dr. Azyumardi Azra, Cendekiawan Muslim Indonesia yang
juga pernah menjabat sebagai Rektor UIN Syarif Hidayatullah. Di samping beliau,
pembicara yang juga diundang adalah pembicara yang istimewa, yaitu Ayatullah
Prof. Dr. Ali Reza A’rafi, Filsuf Iran yang saat ini juga menjabat sebagai
Rektor Universitas Internasional al-Musatafa, Qum, Iran (yang mengagumkan dari
beliau ini, ketika CV beliau dibacakan oleh moderator, kemarin beliau baru saja
merampungkan penulisan buku ‘Fikih Tarbiyah’-nya yang berjumlah 30 jilid). Kemudian
Prof. Dr. Andi Faisal Bakti, Wakil Rektor UIN Jakarta dan juga alumni dari
McGill University, Canada, Amerika.
Pembicara pertama, Prof. Azra, mengatakan bahwa
peran universitas sangat penting dalam membangun peradaban baru Islam.
Setelahnya beliau juga mengatakan, kenapa Islam yang sempat berjaya enam abad
lamanya, setelah terjatuh tidak pernah bangkit lagi. Hal ini, katanya, karena
umat Islam tersandung oleh dua hal; pertama, masih saja berlarut-larut pada
konflik-konflik yang belum selesai-selesai. Kedua, terjabak pada cara berpikir
yang konservatif. Misalnya, masih banyak dari umat Islam yang mengharamkan
filsafat. Ini sungguh kendala. Karna filsafat adalah syarat mutlak bagi
tegaknya sebuah peradaban.
Kemudian pembicara kedua, Ayatullah A’rafi, beliau
mengajukan pertanyaan yang kemudian beliau jawab sendiri. Pertanyaannya, apakah
Islam menyediakan seluruh teori-teori sosial dan humaniora? Beliau menjawab
tidak. Tapi yang harus diingat bahwa Islam melalui al-Quran sangat mendorong
dan memberikan spirit pada umatnya agar giat dalam mencari ilmu pengetahuan.
Sehingga darinya umat Islam bisa menjadi penemu teori.
Setelah keduanya usai menjelaskan (pembicara yang
ketiga saya kurang dengar secara pasti, makanya tidak dicantumkan di sini),
dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Kebetulan saat itu saya juga bertanya.
Saya mengatakan bahwa jika umat Islam ingin membangun peradaban baru, di sana masih
terdapat dua kendala: yakni cara berpikir yang ekslusif (tertutup) dan sikap
yang terlalu apologetik (pembelaan).
Ekslusif misalnya, masih banyak dari umat Islam
yang mengharamkan filsafat atau cara berpikir rasional. Ini sungguh kendala.
Karna bagaimana pun, kalau kita ingin membangun peradaban, jika akal sendiri masih
kita kekang, larang dan haramkan. Sementara sikap apologetik, itu terlihat dari
kita yang suka mengklaim-klaim atas penemuan Barat dengan pernyataan, “Ini
sudah disebutkan oleh al-Quran jauh sebelum Barat menemukannya.” Sikap yang
sungguh kekanak-kanakan dan tidak dewasa.
Kepada Ayatullah A’rafi, saya bertanya bagaimana
cara mencerahkan orang-orang seperti itu? Jawaban dan informasi yang beliau
sungguh menggembirakan.
Beliau mengatakan bahwa Iran alhamdulillah telah
keluar dari ekslusifisme meskipun mendapatkan embargo dan pengucilan dari dunia
(terutama Amerika). Iran hari ini telah mencapai perkembangan ilmu pengetahuan
yang pesat. Integrasi antara Islam dan ilmu pengetahuan benar-benar dijadikan
fokus utama.
Iran bukan hanya berkembang di bidang ilmu
teologi, filsafat dan sastra, tapi juga di bidang ilmu pengetahuan lainnya.
Bahkan kata beliau, saat ini Iran telah membuka 600 prodi untuk melakukan
integrasi di atas.
Saat ini ilmu yang cukup berkembang di sana adalah
ilmu humaniora. Prof. Andi Faisal Bakti pun menambahkan, bahwa ketika beliau
berada di Jepang, ia banyak menemukan banyak anak-anak Iran yang sedang belajar
ilmu kedokteran dan ilmu nuklir.
Iran, sebagaimana pengakuan Ayatullah A’rafi,
dalam standar jurnal internasional, ditempatkan pada posisi pertama di antara
jajaran negara Islam, sementara di dunia menempati posisi ketujuh. Bahkan, beliau juga mengatakan bahwa anak muda Iran sudah ada yang membuat nuklir (tentunya tidak digunakan untuk kejahatan).
Sungguh prestasi yang luar biasa dan mengagumkan. Semoga Indonesia
dan juga negara Islam lain bisa menjadikannya sebagai pacuan dan motivasi. Agar
kemudian, seperti harapan Ayatullah A'rafi, antar sesama negara Islam dapat membuat sebuah pasar besar ekonomi dan
juga pasar ilmu pengetahuan sendiri. Amin

0 Comments