Hari ini cukup cerah, apalagi dengan hati gua. Bisa dibilang sungguh cerah. Hari ini menjadi hari yang monumental dan hari yang bakal dikenang oleh sejarah, bahwa keinginan gua untuk bertemu dengan sosok yang sejak dulu jadi inspirator gua-bahkan saat masih duduk di bangku SMA-dikabulkan oleh Tuhan dan semesta. Insiprator itu adalah Dr. Nadjamudin Ramli (atau yang biasa gua sapa dengan Om Nadja). Kami kemudian berbincang. Meski hanya sebentar, itu sudah lebih dari cukup. Terima kasih Om atas sambutan hangatnya. 

Kelak, di masa depan gua ingin kembali bertemu dengan beliau. Bukan sebagai orang biasa, namun menjadi sosok yang dapat ia banggakan, menjadi regenerasinya sebagai anak Sulteng yang berhasil di Jakarta, telah duduk di forum orang-orang hebat dan berdiri di atas puncak bersama para pemenang. Tentu itu masih sebetas keinginan, tapi kuharap semesta kembali berkenan mewujudkannya. 

*****

Telah lama aslinya gua pengen bertemu dengan beliau. Bahkan gua sampe berusaha buat cari cara atau jalur yang bisa pertemukan gua dengan beliau. Pernah seorang senior di Ciputat, dia mengaku kenal dan dekat dengan Om Nadja. Lebih panjangnya ia juga bilang kalo Om Nadja pernah memasukkan dia dalam sebuah organisasi dan menempatkannya langsung di posisi strategis. Sudah barang pasti itu jadi angin segar dan kabar gembira bagi gua. 

Mendengarnya, gua jadi terobsesi buat minta senior gua, untuk tidak mengatakan ‘mendesak’, agar segera pertemukan gua dengan Om Nadja dengan modus silarurahmi. Hehe. Tapi apalah  daya, selalu saja ada hal yang membuat kami terhalang untuk bersilaturahmi dengan beliau.  

Gua gak putus asa. Gua selalu menanti dan mencari kabar terkait kegiatannya. Terutama yang beliau jadi pembicara. Karena secara kan beliau adalah tokoh nasional yang juga Wasekjen (Wakil Sekretaris Jendral) MUI Pusat, Pengurus Pusat Muhammadiayah dan Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya.

Dari jabatannya di atas, tentu kegiatan yang gua tunggu beliau sebagai pembicaranya tidak lepas dari ketiga hal di atas: forum keagamaan, ke-Muhammadiyah-an dan kebudayaan. 

Dan beberapa bulan yang lalu (tepatnya bulan ramadhan), gua sempat dapat kegiatan yang beliau jadi pembicara, yaitu pada forum bertajuk kebudayaan. Beliau tampil sebagai keynote speaker (pembicara pembuka). Alhamdulillah nya lagi, kegiatan ini kebetulan diadakan di Ciputat, dekat banget ama tempat gua kuliah, UIN Ciputat

Sudah menaruh harapan lebih. Eh sayangnya di acara ini gua gak bisa berbincang dengan beliau barang hanya ngenalin diri dan sampaikan salam dari ayah gua  ke beliau. Sedikit intermezzo, ayah gua adalah temannya ketika dulu nyantri di pondok Muhammadiyah di Palu. 

Terhadap Om Nadja, gua hanya mampu melihatnya dari kejauhan. Sebab pasca acara, para peserta makan. Setelah makan, gua mencari-cari beliau. Dan gak ketemu. Ternyata beliau sudah beranjak pulang. Sangat kecewa pokoknya. Udah berusaha buat datang tapi gak bisa ketemu dan berbicara. Huhu :(

*****

Gua berani dan bahkan sangat berambisi merantau ke Jakarta bisa dibilang banyak terinspirasi oleh beliau. Gua banyak mendengarkan kisah tentang beliau dari ayah. Bahkan ayah gua sangat berharap agar gua bisa seperti Om Nadja. Sukses di Ibu Kota, menjadi tokoh nasional, tokoh Muhammadiyah dan sering tampil di televisi. 

Sumpah. Melihat beliau tampil di televisi saat masih SMA di Palu benar-benar buat gua kagum dan amat berhasrat ke Ibu Kota. Berharap bisa sukses, jadi kebanggaan orang tua, berkenalan dengan orang-orang besar, merasakan ‘panasnya persaingan’ Kota Jakarta dan bisa jadi pembicara di forum, seminar atau televisi. Gak papa kan bermimpi dulu?! Hehe. Intinya beliau adalah orang yang sedikit-banyak telah memberikan inspirasi pada gua.

Mungkin terkesan lebay. Cuma untuk diketahui, gua adalah orang yang menganggap adanya inspirator itu penting. Atau bahasanya sederhananya, sosok yang menjadi role model bagi kita di dalam meraih sukses di masa mendatang. Hadirnya role model semacam itu benar-benar menguntungkan bagi kita. Kita jadi punya patokan tentang gimana langkah yang harus kita jejaki dan tempuh biar bisa sukses seperti mereka. 

Apalagi kalo yang jadi role model itu berasal dari kalangan tokoh-pemikir besar, biografi mereka sudah banyak ditulis. Jadi kita lebih mudah dalam mengetahui dan mempelajari gimana langkah-langkah dia menuju sukses. 

 Inspirator buat kita lebih bersemangat dan dapat suplai energi menaklukkan segala cita. Timbullah perasaan dalam diri, “kalo dia bisa, masa iya gua gak.” Ingat! Setiap masa ada tokohnya dan setiap tokoh ada masanya. Dan pastikan saat masamu nanti, lu lah yang jadi tokohnya sebagaimana dia jadi tokoh pada masanya sendiri.

Atas semua alasan itulah gua menganggap bahwa inspirator atau orang yang dijadikan role model bagi kehidupan itu penting, bahkan sangat penting. Karna sejauh pembacaan gua, seluruh tokoh atau pemikir besar yang kita ketahui, misal Buya Hamka, Prof. Quraish Shihab dan KH. Zainudin MZ, kesemuanya memiliki sosok yang dijadikan inspirator dan role model. Kalo mereka aja punya, masa kita gak?! So, cari dan segera temukan inspiratormu!

                                                                                                 Warung Jati, 7 November 2019