Seperti yang telah kita ketahui, sepanjang perjalanan bangsa Indonesia dari awal berdirinya hingga sekarang telah banyak lahir organisasi mahasiswa. Ada yang bercorak agamis (diwaliki oleh agama Islam dan Kristen) dan nasionalis (diwakili oleh GMNI). Namun tulisan ini hanya fokus untuk membahas organisasi mahasiswa Islam dan dinamikanya di kampus.
Organisasi mahasiswa Islam di Indoesia, setidaknya yang terkenal, itu ada empat. Di sana yang tertua ada HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), kemudian dilanjut PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) dan yang terakhir KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia).
Keempat organisasi ini, sebagaimana telah menjadi kultur kita di kampus Indonesia, usai dilaksanakannya penerimaan mahasiswa baru akan mendirikan stand di dalam kampus, lalu sembari mempromosikan kepada para mahasiswa baru untuk memilih mereka.
Setiap organinasi mahasiswa ekstra (sebutan bagi mereka di area kampus) tersebut akan berlomba-lomba untuk menunjukan kelebihannya masing-masing. Tentu dengan harapan agar mahasiswa baru memilih mereka. Dan ini sah-sah saja. Karena sangat tidak mungkin bagi mereka untuk menunjukan kekurangannya. Mahasiswa pasti akan kabur dan enggan untuk memilih mereka.
Klaim-klaim akan superioritas salah satu dari mereka atas yang lain akan banyak diumbar dan menjadi pemandangan yang lumrah. Lagi-lagi, ini juga masih sah-sah saja. Mengingat kontestasi antara organinasi mahasiswa selalu digelorakan. Dan dalam kontestasi tentu akan dihasilkan pihak yang menang dan yang kalah.
Namun terlepas dari itu semua, ada satu hal yang benar-benar mengusik saya ketika perekrutan mahasiswa baru oleh organisasi mahasiswa ekstra kampus dilakukan. Hal itu adalah bagan sejarah organ mahasiswa Islam di Indonesia; di mana HMI ditaruh pada posisi paling atas dan di bawahnya ditempatkan tiga organinasi lain (PMII, IMM dan KAMMI) sebagai turunannya.
Terus, dari bagan di atas di mana hal yang membuat saya terusik? Baiklah. Mari kita lanjut, ulasan di bawah akan mencoba untuk menjelaskannya.
Ketahuilah tuan dan puan! Bagan yang saya sebutkan di atas adalah bagan yang sangat familiar di kalangan kita. Bagan yang seolah sudah menjadi kebenaran umum karena tak adanya pihak yang berani menggugat. Makanya kali ini, dengan tegas saya memaklumatkan kepada kalian semua bahwa saya menggugat hal di atas. Terutama yang berkaitan dengan IMM dengan kapasitas saya sebagai insider (kader IMM) di samping dengan sedikit wawasan yang saya punya.
Bagan di atas bermaksud dan ingin menjelaskan kepada kita, khususnya mahasiswa baru, bahwa HMI sebagai organisasi mahasiswa Islam terbesar di Indonesia adalah ibu yang dari rahimnya melahirkan beberapa anak, yaitu PMII, IMM dan KAMMI.
Inilah yang membuat saya terusik dan merasa risih, yaitu ketika IMM diklaim sebagai anak kandung HMI. Bagi saya, ini jelas pemahaman sejarah yang keliru, buram dan jauh dari benar. Dan lebih herannya lagi, anak-anak HMI mengucapkan ini dengan bangga tanpa menanyakan dan bersikap kritis terkait kebenarannya.
Mungkin saya terkesan bertele-tele sehingga pembaca tidak sabar ingin mengetahui di mana letak kekeliruannya?! Baiklah saya akan segera menjawab. Kelirunya adalah anak-anak HMI ketika mengatakan dan mengklaim IMM sebagai anak kandungnya, mereka pasti akan menyebutkan bahwa pendiri IMM adalah M. Amien Rais. Dan dulunya beliau sempat aktif di HMI. Makanya dengan berani mereka mengklaim bahwa IMM adalah anak kandung HMI sebagaimana di atas. Di sinilah letak kekeliruannya. Sebab sejarah yang benar mengungkap bahwa M. Amien Rais bukan pendiri IMM. Malah beliau adalah generasi kedua setelah IMM. Pendiri IMM yang sejati adalah M. Djazman al-Kindi.
Jadi begitu pembaca yang budiman, pendiri IMM yang benar adalah M. Djazman al-Kindi, bukan M. Amien Rais. Dan Djazman tidak pernah aktif di HMI. Sama halnya dengan kasus pendiri PMII, organisasi ini bukan didirikan oleh orang eks HMI, yaitu Mahbub Djunaidi. Sebab dalam deretan 13 nama pendiri PMII, nama Mahbub tidak ditemukan. Yang hanya kita dapati ialah Mahbub diamanatkan oleh tokoh-tokoh NU sebagai Ketua Umum PMII pertama. Jadi beliau bukan pendiri.
Kembali lagi terkait IMM. Setelah dikemukakannya sejarah bahwa IMM tidak didirikan oleh M. Amien Rais, menjadi kekeliruan yang amat besar ketika menyebut IMM sebagai anak kandung HMI. Karena Djazman pendiri IMM tidak pernah aktif di HMI, berbeda halnya dengan M. Amien Rais.
Sejauh bacaan saya, sejarah demikianlah sejarah yang valid dan bisa dipercaya. Karenanya dengan hadirnya tulisan ini saya berharap agar kekeliruan sejarah itu tidak lagi berlangsung dan segera berhenti. Sebab kita telah memeroleh wawasan sejarah yang otentik, yang tidak berdasarkan klaim ataupun motif-motif tertentu yang dapat mengaburkan pandangan kita terhadap sejarah.
Sebagi penutup, saya kira perlu untuk diberitahukan bahwa tulisan ini tidak ada maksud apa-apa. Sekali lagi, tidak ada maksud apa-apa. Tulisan ini tidak dibuat atas dasar kebencian dan ketidaksenangan terhadap siapa pun. Ini murni dan tidak lain hanya upaya sederhana dari saya untuk meluruskan sejarah keliru yang ditakutkan akan terus berlanjut hingga nanti dan dikhawatirkan diyakini sebagai sebuah kebenaran.
0 Comments