Kalian tau gak gimana caranya merayakan kehidupan? Mungkin berat jawabnya, tapi jawablah semampu kalian dan dengan cara yang biasa kalian lakukan! Salah seorang teman menjawab dengan shoping, travelling, kulliner dll. 

Jawabannya boleh. Hanya saja yang diinginkan dari merayakan kehidupan bukan hanya perasaan senang seperti yang dia sebutin di atas, lebih dari itu ia harus membuahkan rasa gembira dan bahagia.

Pertanyaannya kemudian, gimana cara kita menggapai rasa gembira dan bahagia tersebut?! 
Kata temen yang lain sederhana, caranya adalah dengan berbagi kepada sesama, melihat orang di sekitar dia bahagia dengan adanya dirinya. Itu udah buat dia gembira, bahkan gembira tiada tara. Apalagi kalo ngeliat orang tua dia tertawa lepas dan begitu bangga punya anak kayak dia. Huhu. Bahagia sekali katanya. Belum lagi jika ditambah kalo dia bisa mewujudkan semua mimpi-mimpi. Duh, luar biasa bahagianya. 

Yang demikian itu aku kira cukup mendekati. Sebab kita telah mampu membedakan antara diri kita dan binatang. Kita telah memberikan ruang kepada kemanusiaan kita untuk berekspresi. Hal yang tidak ada dari binatang, yaitu kemanusiaan berupa rasa empati, simpati, dan sikap penuh kasih. 

Aku bukan bermaksud untuk menyamakan kita dengan binatang. Tapi, ketahuilah, memang ada hal-hal yang harus bedakan dari diri kita sebagai manusia dengan hewan. Salah satunya adalah seperti hal di atas. Tidak selalu mendasarkan diri pada kehendak nafsu. 

Kalian pernah denger gak ungkapan kalo pekerjaan yang enak itu adalah hobi yang dibayar? Aku yakin ungkapan ini tidak asing dan begitu familiar di telinga kalian. 

Nah, kalian tau gak apa yang bisa petik dari ungkapan itu? Bila ditarik dari dasar yang paling dalam, darinya kita tau bahwa hal terindah dan bisa membuat kita bahagia adalah mengerjakan sesuatu yang dikehendaki hati dan disenanginya. Bukan malah yang dibencinya

Nasehat Buya Hamka cukup relevan dengan hal ini. Beliau menasehati:


Agama tidak akan melarang sesuatu kecuali hal itu berbahaya bagi hati, sebagaimana agama juga tidak menyuruh sesuatu kecuali itu memberi gizi/nutrisi bagi hati. 
        
Perilaku iri, tamak (rakus), riya (ingin diliat orang lain), hasad dan dengki adalah perbuatan yang dilarang oleh agama. Mengapa? Karena ia akan merampas kebahagiaan dari hati seseorang.  

Sebaliknya, perilaku saling membantu, bersedekah, sabar dan qana’ah adalah perbuatan yang sangat diserukan oleh agama. Alasannya sederhana, mengikuti Buya Hamka, sebab memberikan subsidi rasa bahagia pada hati. Maka dari itu, mulai dari sekarang setiap aktivitas yang kita lakukan haruslah dengan hati. 

Dari mana didapatkannya kebahagiaan? Orang-orang menjawab dari cinta. Benarkah demikain? Kukira iya.
Di dalam tasawuf, tingkatan atau level tertinggi adalah ketika seorang salik telah menggapai mahabbah (cinta). Itulah yang telah diraih oleh Rabiatul Adawiyah. Alhasil, semua yang diperintahkan Rabb-nya akan dilakukan sepenuh hati dan penuh bahagia. Apa sebab demikian? Semuanya karna cinta
Cinta inilah yang harus dituju dan menjadi sentral dalam kehidupan manusia. Sebagaimana pertanyaan di awal tulisan, bagaimana cara merayakan kehidupan?! Prof. Komaruddin Hidayat dalam bukunya “Penjara-penjara kehidupan” menjelaskan bahwa cinta-lah yang menjadi syarat mutlak dalam merayakan kehidupan.
Cinta melahirkan kebagaiaan, melahirkan ketentraman dan melahirkan kedamaian. Cinta adalah agamanya para sufi. Sebab hanya dengan cinta, agama dapat menjadi rahmat bagi seluruh semesta.