Pagi ini gua gabut banget.
Gua udah bangun sejak jam 6-an. Gua gak ada mata kuliah. Paling nanti, bakda
zuhur. Mata kuliah ushul fikih bersama dosen idola dan favorit gua, Pak Zuhdi
namanya. Beliau itu alumni Iran. Pemikiran dan wawasannya luar biasa. Seimbang
antara pengetahuan kitab kuning (klasik) dan kitab putih (modern). Eh, kok
malah cerita soal Pak Zuhdi. Sorry gaees!
Lanjut yaaa. Karna
kegabutan tadi, gua berusaha ngerjain sesuatu biar ga kosong-kosong amat.
Awalnya buka yutub buat dengerin lagu. Bosen dikit, gua pindah buka WA, FB dan
juga IG. Scrool story orang-orang dan liat siapa aja yang udah liat story gua.
Alhasil, gua malah tambah bosen.
Gua udah bingung mau
ngapain lagi. Tapi setelah itu seperti abis dapat ilham, gua ada ide gimana
kalo nonton film di LK21 aja. Gua bukalah websitenya dan pilih-pilih film mana
yang bagus dinonton. Taraa, filmnya ketemu. Film Calon Bini. Awalnya ragu mau
nonton, takut filmya ga bagus. Tapi pas gua liat deskripsi di bawahnya, gua
akhirnya terpancing buat nonton. Soalnya katanya film ini ada dramanya dan
komedinya. Udah, auto langsung gua buka dan nonton.
Film ini dibuka dgn adegan
seorang Ningsih yang baru saja tamat dari SMA. Setelah lulus, ia bercita-cita
ingin lanjut kuliah. Tapi seakan tidak setuju keinginannya itu, ia malah pengen
dinikahin oleh pamannya dgn anak seorang Kades (Kepala Desa). Tujuannya
pamannya hanya satu, biar Ningsih bisa hidup tenang dan orang tuanya bisa jadi
kaya raya. Orang tuanya akan memiliki banyak sawah, motor baru dan rumah yang
lumayan lah untuk ukuran orang kampung.
Mengetahui hal itu,
Ningsih dgn berat hati menolaknya. Ia mengatakan ke orang tuanya kalo ia pengen
kuliah dan mengejar cita-citanya. Setelah itu ia gak lupa juga menjelaskan
kepada orang tuanya kalo perihal cita-citanya itu, mereka gak perlu khawatir
dan merasa terbebani soal itu. Sebab Ningsih sendirilah yang mencari dan
ngumpulin uang buat kuliah, yakni dgn bekerja terlebih dulu.
Nasibnya cukup beruntung.
Ia memiliki seorang teman bernama Sri yang menawarkannya pekerjaan di Jakarta.
Dengan senang hati ia menerima tawaran tersebut. Dan selang beberapa hari
kemudian ia berangkat menuju Jakarta menggunakan kereta diantar oleh sanak
familinya ke stasiun
Bersyukur pas Ningsih
sampe di stasiun di Jakarta, ia tidak lagi pusing-pusing mencari tempat ia
bekerja karna sdh langsung dijemput oleh sopir dari majikan tempatnya bekerja
nanti.
Di dalam perjalanan menuju
rumah majikannya, Ningsih begitu gembira dan bahagia. Sepanjang jalan,
sabagaimana orang pertama kali Jakarta, ia memandangi gedung-gedung megahnya
dgn penuh decak kagum.
Gak lama setelah itu
sampailah ia di rumah majikannya. Lewat sopir yang mengantarnya tadi, ia
langsung diperkenalkan dgn majikannya. Alhamdulillah majikannya sangat humble
dan gak garang. Usai diperkenalkan, mulailah saat itu juga ia bekerja.
Pekerjaannya dinilai baik
dan disenangi oleh majikannya. Apalagi masakannya. Uuuh, yami. Sangat enak kata
majikannya. Sampe akhirnya Ningsih lah yang diperintahkan buat nyiapin makanan
seterusnya. Ia sudah mendapat tempat di hati majikannya. Hingga pembantu yg
udah lama bekerja di tempat itu merasa tersaingi. Ia merasa iri. Untunglah rasa
irinya itu tidak sampe membuatnya ingin menyingkirkan Ningsih. Tapi hanya
sebatas kesel.
Hari demi hari telah ia
lalui di Jakarta. Tapi tunggu, kayaknya ada satu hal yg lupa gua jelasin ke
kalian, Ningsih ini orangnya suka selfie loh dan juga suka posting foto di IG
dgn caption yg ingin menjelaskan kepada orang lain kalo ia pasti bisa meraih mimpi
dan cita-citanya. Namun semua komentar yang membanjiri postingannya bersikap
sinis bahkan menjatuhkan semangat. Untunglah ada satu teman IG-nya (tapi gak
tau gimana mukanya dan di mana dia tinggal) yg selalu menyemangati dia dan buat
dia yakin kalo dia pasti bisa raih mimpi-mimpinya.
Dari sini kita bisa
belajar, walaupun semua orang menghina dan meremehkan cita-citamu, tapi selama tetap
ada yang mendukungmu walau hanya seorang. Kamu harus yakin kalo kamu pasti bisa
meraih segala cita dan harapanmu.
Spoiler filmya sampe sini
aja dulu yaa (bagi kalian yg belum nonton aja, kalo udah yaa santai aja. Wkwk).
Nanti kalian boleh nonton filmnya langsung. Filmnya keren. Dijamin suka.
Gua mau langsung lanjut
aja ke hasil refleksi gua terhadap film itu. Satu hal yang paling gua soroti di
sini adalah soal ke-patriarkisan masyakatnya.
Makanya bagi gua, berani
bermimpi tinggi untuk seorang anak kampung yang di samping itu juga merupakan
anak perempuan yang tumbuh dan dibesarkan dalam masyarakat patriarkis itu
terbilang cukup susah dan pasti memiliki banyak tantangan. Tapi Ningsih,
pemeran utama dalam film ini, berhasil melewatinya. Barvo!
Kenapa susah? Ya, karna
dalam masyarakat patriarkis doktrin yang tertanam ialah bahwa wanita secara
kodratnya sudah digariskan hanya akan berurusan pada tiga hal: sumur, dapur dan
kasur. Jadi, ga perlu bermimpi tingggi.
Padahal kodrat wanita
bukan itu. Kodrat wanita hanyalah haid, nifas, mengandung, melahirkan dan
menyusui (kalo masih ada yg kurang boleh ditambahin). So, the conclusion is
baik wanita atau laki-laki, sama-sama berhak untuk bermimpi tinggi dan berperan
di ranah publik
Sekian!!!

2 Comments