Terkait pengumpulan
al-Quran untuk pertama kalinya, Zain bin Tsabit adalah figur yang sering
disebut sebagai tokoh sentral dalam mengerjakannya. Namun, sebagaimana
pengelompokkan yang dilakukan oleh Taufik Adnan Amal, hal ini merupakan
pandangan mayoritas.[1]
Adapun versi minoritas meragukan peran sentral Zaid tersebut. Di antara alasannya
ialah:
Ada riwayat, walaupun tidak masyhur, yang mengatakan
bahwa Ali bin Abi Thalib dan Salim ibnu Ma’qil-lah yang merupakan pengumpul
pertama al-Quran.
Kemudian kalau dalam versi mayoritas Umar dikenal sebagai
penggagas intelektual pengumpulan pertama al-Quran, sedangkan Abu Bakar
merupakan orang yang memerintahkan pengumpulan dalam kapasitasnya sebagai
penguasa-dan menunjuk pelaksana teknis, serta menerima hasil pekerjaan berupa
mushaf al-Quran.
Maka versi minoritas mengungkap bahwa terdapat riwayat
al-Zuhri (w. 742), yang mengatakan pada saat kaum muslimin banyak yang terbunuh
dalam pertempuran Yamamah, Abu Bakarlah yang justru mencemaskan akan musnahnya
sejumlah besar qurra.
Riwayat minoritas lainnya bahkan memangkas peran utama
Khalifah Pertama dan meletakkan keseluruhan upaya pengumpulan di atas pundak
Khalifah Kedua.
Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu ketika
Umar bertanya tentang suatu bagian al-Quran dan dikatakan bahwa bagian tersebut
berada pada seseorang yang tewas dalam pertempuran Yamamah. Ia mengekspresikan
rasa kehilangan dengan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, lalu
memerintahkan untuk mengumpulkan al-Quran sehingga “Umar adalah orang pertama
yang mengumpulkan al-Quran ke dalam mushaf.” Di sini, sebagaimana kesimpulan
yang dibuat Taufik, secara implisit disebutkan bahwa baik proses awal maupun
proses akhir pengumpulan al-Quran berlangsung pada pemerintahan Umar.
Dalam itqan, dikutip riwayat yang mengatakan bahwa
pencantuman ‘ayat rajam’ ke dalam mushaf ditolak karena tidak dipenuhinya
persyaratan persaksian oleh Umar- yakni hanya ia sendiri yang memandang ayat
tersebut sebagai bagian wahyu. Tetapi riwayat ini tampak bersebrangan dengan
riwayat lain yang mengungkapkan bahwa Ubay bin Ka’ab juga mengetahui
esksistensi ‘ayat rajam’ sebagai bagian dari wahyu, dan menyalin ke dalam
koredoksnya.
Sehubungan dengan Ubay, satu riwayat minoritas
mengungkapkan keterlibatannya dalam pengumpulan Abu Bakat. Dalam riwayat ini
disebutkan bahwa ketika al-Quran dikumpulkan ke dalam mushaf pada masa Khalifah
Abu Bakar, beberapa orang menyalin didikte oleh Ubay. Ketika mencapai 9:127,
beberapa di antaranya memandang bagian al-Quran yang terakhir kali diwahyukan.
Tetapi, Ubay menunjukan bahwa Nabi telah mengajarkannya dua ayat lagi
(9:128-129), yang merupakan bagian terakhir dari wahyu. Versi lain dati riwayat
ini mengungkapkan bahwa al-Quran itu dikumpulkan dari mushaf Ubay (annahum
jama’uu al-Quran min mushaf Ubay). Dari hal di atas, sebagaimana terlihat
riwayat-riwayat tentang peran Ubay ini- seperti versi-versi minoritas lainnya-
telah menegasikan riwayat mayoritas tentang pengumpulan yang dilakukan oleh
Zaid.
Hal ini kemudian ditampik kembali oleh pandangan
mayoritas dengan riwayat kalau Zaid bin Tsabit mendapatkan intruksi dari Abu
Bakar untuk mengumpulkan al-Quran. [2]
Zaid
melaporkan:
Abu Bakr memanggil saya
setelah terjadi peristiwa pertempuran Yamamah yang menelan korban para sahabat
sebagai syuhada. Kami melihat saat Umar bersamanya. Abu Bakr mulai berkata,
“Umar baru saja tiba menyampaikan pendapat ini, ‘Dalam pertempuran Yamamah
telah menelan korban yang begitu besar dari penghafal al-Quran (qurra), dan
kami khawatir hal serupa akan terjadi pada pertempuran lain. Sebagai akibat, kemungkina
sebagian al-Quran akan musnah. Oleh karena itu, kami berpendapat agar
dikeluarkan perintah pengumpulan semua al-Quran.” Abu Bakr menambahkan, “Saya
katakan pada Umar, ‘bagaimana mungkin kami melakukan satu tindakan yang Nabi
Muhammad tidak pernah melakukan?’ Umar menjawab, ‘Ini merupakan upaya terpuji
terlepas dari segalanya dan ia tidak berhenti menjawab sikap keberatan kami
sehingga Allah memberi kedamaian untuk melaksanakan dan pada akhirnya kami
memiliki pendapat serupa, Zaid! Anda seorang pemuda cerdik pandai, dan anda
sebuah terbiasa menulis wahyu pada Nabi Muhammad, dan kami tidak melihat satu
kelemahan pada diri Anda. Carilah semua al-Quran agar dapat dirangkum
seluruhnya.” Demi Allah, jika sekiranya mereka minta kami memudahkan sebuah gunung
raksasa, hal itu akan terasa lebih ringan dari apa yang mereka pindahkan pada
diri saya sekarang. Kami bertanya pada mereka, ‘Kenapa kalian berpendapat
melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad?’ Abu Bakr dan
Umar bersikeras mengatakan bahwa hal itu boleh-boleh saja dan malah akan
membawa kebenaran. Mereka tak henti-hentinhya menenangkan rasa keberatan yang
ada hingga akhirnya Allah menenangkan kami melakukan tugas itu, seperti Allah
tenangkan hati Abu Bakr dan Umar.[3]
[1] Taufik
Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah al-Quran, (Ciputat: Pustaka Alvabet,
2013), hal. 156
[2] Prof.
Dr. M. M. al-’Azmi, The History of The Quranic Text, (Depok: Gema
Insani, 2006), hal. 85
[3] Prof.
Dr. M. M. al-’Azmi, The History of The Quranic Tex, hal. 84

1 Comments
Learn everything about Casino in the Philippines - Kalamba Kalamba, a popular destination for Indian players and febcasino also serves kadangpintar as a favorite at the Mandalay 바카라 사이트 Bay