IMM bagiku, sebagaimana Muhammadiyah (berdasarkan penglihatan sepintas), adalah organisasi yang konservatif, meskipun kerap disebut sebagai organisasi modernis. Inilah yang membuat aku enggan masuk di dalamnya. Aku menganggap ini sebuah paradoksal dalam Muhammadiyah. Organisasi yang dikenal sebagai organisasi modernis malah memperlihatkan cara pandang dan pergerakan yang konservatif, khususnya dalam bidang pemikiran Islam.  Padahal seharusnya menampilkan cara pandang dan pergerakan yang progresif. Mungkin mereka hanya fokus pada amal usaha, sehingga lupa akan hal-hal yang subtansial. Mengapa penting bagi Muhammadiyah untuk mengembangkan pemikiran Islam? Ya. tak lain karena pada organisasi ini melekat nama ‘Islam’. 

Hal itu dulu sebelum masuk dan bergaul di dalamnya. Namun kini, pandanganku bahwa IMM itu konservatif berangsur-angsur menurun dan kian terhapus. Apalagi aku berada di komisariat ushuluddin, fakultasnya para pemikir katanya. Di dalamnya terdapat banyak orang-orang progresif, tidak tertutup (ekslusif), dan memiliki minat serta tingkat literasi yang tinggi. Sebut saja Mas Labib, Bang Fajar, Bang Azizi, Kak Nurul dan Kak Ananul. Pada momen seperti inilah rasa optimisku terbangun. Sebab bila suatu saat nanti aku menyuarakan semangat pembaharuan yang telah lama padam dan mengalami stagnasi, paling tidak aku tidak sendiri. Akan banyak orang yang mendukung dan mengawalku. Aku tak bisa membayangkan jika tanpa mereka, orang-orang yang se-frekuensi denganku, mungkin sudah lama aku hengkang dari IMM. 

Ada satu pesan senior dari IMM yang membuat hatiku terketuk dan mungkin juga menjadi salah satu alasan mengapa aku tetap bertahan di IMM. Namanya Kak Nurul, ia saat itu menasehati kami: “Kalau ada yang salah dan kurang dari IMM, jangan lantas keluar. Boleh mungkin keluar, tapi bukan untuk selamanya. Carilah ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya, namun jangan lupa untuk kembali. Bangunlah IMM ini! 

Bertahanlah dan coba perbaiki semua kekurangan serta kesalahan yang ada. Kalian kan punya potensi dan bakat masing-masing. Nah, gunakan semua hal itu untuk membangun IMM. Bagi yang suka nulis, silahkan berkaryalah sebanyak-sebanyaknya. Buat yang suka baca dan diskusi, bacalah sebanyak-sebanyaknya buku dan aktiflah di kegiatan diskusi. Buktikan! Ini lho IMM. Anaknya keren-keren. Di dalamnya ada banyak penulis hebat, anak-anaknya bacaanya luas dan diskusinya berkualitas.” 

Selain itu ada banyak hal yang kudapatkan selama setahun di IMM. Sehingga tidak sia-sia rasanya telah bergabung di dalamnya. Salah satunya adalah senior-senior yang begitu merangkul kader-kader dan setia mengawal proses pembentukannya. Sebuah karunia yang patut disyukuri. Karena boleh jadi hal itulah yang mungkin tidak akan kutemukan di organisasi lain. Selain merangkul, aku melihat senior-seniornya sangat menghargai kader yang memiliki potensi dan kualitas. Misalnya, selama di IMM aku begitu sering diberikan panggung atau forum untuk menjadi pemateri. Bagiku, ini adalah bentuk apreasiasi terhadap kader. Apalagi ketika kemarin aku mengikuti kegiatan FCM bersama kawan-kawan yang lain, senior-seniorku sangat mendukung. Bukan hanya dukungan moril, tapi juga materil. Di atas semua itu, nikmat yang paling kusyukuri adalah bisa aktif dalam forum-forum Muhammadiyah, sering berkecimpung dalam kegiatan Muhammadiyah, update terkait info Muhammadiyah. Sehingga sanad ke-Muhammadiyah-anku terjaga.