“Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara
kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan)
Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan kitab-kitab-Nya, dan dia adalah
termasuk orang-orang yang taat.” (Q.S. at-Tahrim 12)
Al-Quran telah bertutur tentang dua wanita salihah yang keimanannya telah
menancap kokoh di relung kalbunya. Dialah Asiyah bintu Muzahim, istri Fir’aun,
dan Maryam bintu ‘Imran. Dua wanita yang kisahnya terukir indah di dalam
Al-Qur`an itu merupakan sosok yang perlu diteladani wanita muslimah saat ini.
Namun di tulisan kali ini hanya akan difokuskan pada pembahasan kisah Siti
Maryam.
Maryam adalah satu dari sekian qudwah (teladan) bagi wanita-wanita yang
beriman kepada Allah dan suri tauladan (uswah hasanah) bagi para istri
kaum beriman. Ayat-ayat Rabb Yang Maha Tinggi menuturkan kesalihannya dan
mempersaksikan keimanan yang berakar kokoh dalam relung kalbunya. Sehingga
pantas sekali kita katakan bahwa ia adalah wanita yang manis dalam sebutan dan indah
dalam ingatan.
Dari
kisahnya juga dapat diambil pesan bahwa istri yang salihah akan menjaga dirinya
dari perbuatan keji dan segala hal yang mengarah ke sana. Sehingga ia tidak
keluar rumah kecuali memperhatikan adab-adab syariat. Dia menjaga diri dari
bercampur baur apalagi khalwat (bersepi-sepi/ berdua-duaan) dengan laki-laki
yang bukan mahramnya. Ia tidak berbicara dengan lelaki asing (non-mahram)
dengan mendayu-dayukan suara. Dan ia tidak melepas pandangannya dengan melihat
apa yang diharamkan Allah. Ia ingat bagaimana Allah memuji Maryam yang sangat
menjaga kesucian diri, sehingga ketika dikabarkan oleh Jibril bahwa dia akan
mengandung seorang anak yang kelak menjadi rasul pilihan Allah, Maryam berkata
dengan heran:
“Bagaimana aku bisa memiliki seorang anak laki-laki
sedangkan aku tidak pernah disentuh oleh seorang manusia (laki-laki) pun dan
aku bukan pula seorang wanita pezina.” (Q.S. Maryam: 20)
Wanita
salihah juga akan mengingat bagaimana keimanan Maryam kepada Allah dan
bagaimana ketekunannya dalam beribadah, sehingga Allah memilihnya dan
mengutamakannya di atas seluruh wanita.
“Ingatlah ketika malaikat Jibril berkata: Wahai Maryam,
sesungguhnya Allah telah memilihmu, mensucikan dan melebihkanmu di atas segenap
wanita di alam ini (yang hidup di masa itu).” (Ali ‘Imran: 42)
Lihatlah! Betapa usahanya menjaga
kesucian diri berbuah lahirnya anak yang salih. Hal yang dapat menjadi pesan
bagi wanita masa kini agar senantiasa menjaga diri. Bukankah kita mengenal
ungkapan didiklah anak kalian 25 tahun sebelum mereka lahir. Artinya, usia
wanita dari sejak lahir sampai sebelum menikah harus digunakan untuk hal-hal
positif dan produkif untuk membentuk karakternya menjadi seorang ibu yang baik.
Di antaranya: banyak membaca dan senantiasa menjaga ibadah.
Adapula pelajaran lain yang
bisa diambil dari permisalan yang dibuat untuk kaum mukminin dengan Maryam.
Yaitu, Maryam tidak mendapatkan mudharat
sedikit pun di sisi Allah dengan tuduhan keji yang dilemparkan Yahudi dan
musuh-musuh Allah terhadapnya. Begitu pula sebutan jelek untuk putranya, tapi
Allah mensucikan keduanya dari tuduhan tersebut. Perlakuan jahat dan tuduhan
keji itu ia dapatkan. Padahal ia adalah seorang ash-shiddiqah
al-kubra (wanita yang sangat benar keimanannya, sempurna ilmu dan amalnya),
wanita pilihan di atas segenap wanita di alam ini. Lelaki yang salih (yakni Isa
putra Maryam) pun tidak mendapatkan mudharat
atas tuduhan orang-orang fasik terhadapnya.
Bahkan
saking tingginya penghormatan Allah terhadapnya, Imam Ahmad meriwayatkan dalam
musnadnya bahwa penghulu wanita penghuni surga ialah Maryam lalu menyusul
Fatimah, Khadijah dan 'Aisyah. Di dalam kitab sahih diterangkan bahwa laki-laki
yang sempurna, banyak bilangannya. Tetapi perempuan yang sempurna hanya empat
yaitu Asiah binti Muzahim istri Firaun, Maryam binti 'Imran, Khadijah binti
Khuwailid dan Fatimah binti Muhammad. Sedangkan kelebihan Siti Aisyah atas
wanita-wanita yang lain seperti kelebihan zarid atas makanan-makanan yang lain.
Semoga
hal di atas dapat memotivasi wanita masa kini untuk lebih giat dalam beribadah,
memperbanyak wawasan dalam ilmu agama, dan senantiasa menjaga diri. Agar dari
rahim mereka lahirlah “Isa-Isa baru” yang salih dan mengabdikan dirinya untuk
agama. Amin!

2 Comments