Benar adanya jika perkembangan pesat ilmu pengetahuan yang terjadi saat ini di barat tidak lepas dari peran dan sumbangsih ilmuwan dan cendekiawan muslim abad pertengahan. Era ini dinamai oleh para peneliti dari barat sebagai golden age of Islam, yakni masa keemasan (kejayaan) Islam.
Mengapa demikian? Sebab pada era ini juga terjadi perkembangan ilmu pengetahuan yang kemudian menginspirasi Eropa, ditandai dengan banyaknya pemikir-pemikir muslim yang lahir pada era ini. Antara lain Al-Farabi, Al-Khawarizmi, Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd. Mereka melakukan penilitian terhadap karya-karya filsafat Yunani Kuno dan memilah mana di antaranya relevan dengan wahyu ilahi dan berguna bagi kemajuan umat Islam.
Akan tetapi adalah keliru penulis kira jika ada dari umat Islam yang dengan adanya peradaban gemilang Islam tersebut mengatakan bahwa hakikatnya ilmu pengetahuan berasal dari umat muslim. Karena bila diteliti lebih jauh, ilmuwan dan cendekiawan muslim juga sedikit-banyak terpengaruh oleh karya-karya filsafat Yunani Kuno.
Jangan hanya karena ambisi kita untuk menampilkan Islam sebagai agama terbaik malah membuat kita sampai tidak berlaku jujur dalam mengakui tentang adanya kontribusi dari pihak di luar Islam yang menunjang kegemilangan Islam.
Apalagi saat ini cukup banyak pemikir dari Barat yang non-muslim mempelajari, menelaah dan meneliti ajaran agama islam. Bukan untuk menyerang, tapi menjadikan Islam sebagai studi komparasi (perbandingan) dengan selain atau di luar Islam.
Walau pun hanya sebagai studi, tidak sedikit dari hasil temuan dan penelitian yang mereka berikan dan sampaikan kemudian makin memperkuat bukti akan keagungan dan kebenaran ajaran Islam yang luput dari intaian ulama-ulama kita karena terbiasa menerima informasi Al-Quran dan hadis-hadis Nabi sebagai dogma tanpa melakukan penelitian terhadapnya.
Salah satu contohnya adalah Maspero, pakar sejarah Mesir Kuno. Hasil penelitiannya kemudian membuktikan kebenaran Al-Quran bahwa Allah menyelamatkan jasad Fir'aun sebagai pelajaran bagi umat setelahnya, setelah 15 tahun tidak ada yang mengetahui di mana sebenarnya penguasa yang tenggelam itu berada pasca turunnya Al-Quran. Itu hanya salah satu dari sekian banyak contoh.
Di antara seluruh pemaparan di atas, hanya satu yang penulis ingin tekankan bahwa kita umat Islam harus senantiasa merawat sifat jujur, baik dalam kehidupan sehari-hari ataupun kehidupan ilmiah-akademik. Tak perlu risau. Sebab hal itu tidak akan membuat kita tampak lemah, namun justru mengumumkan akan keanggunan moral dan etika kita, baik kepada umat Islam sendiri, lebih-lebih kepada mereka yang di luar Islam.

0 Comments