Sebab pemalsuan hadis pertama kali muncul adalah ketika adanya perselisihan yang melanda kaum muslim yang bersumber pada fitnah dan kasus-kasus yang mengikutinya; yakni umat islam menjadi beberapa kelompok. Kemudian, pengikut setiap kelompok dengan leluasa memalsukan hadis-hadis untuk membela diri dalam menghadapi kelompok yang beranggapan bahwa merekalah yang berhak memegang khilafah.
Berdasarkan data sejarah yang ada, pemalsuan hadis tak hanya dilakukan oleh orang-orang islam saja, melainkan juga dilakukan oleh orang-orang non-islam. Mereka memalsukan hadis, karena didorong oleh keinginan meruntuhkan islam dari dalam. Adapun dari kalangan islam sendiri, menurut para ulama, yang awalnya membuat hadis palsu adalah golongan syiah.
            Adapun hal-hal yang menjadi faktor pemalsuan hadis menurut ulama di antaranya adalah sebagai berikut:
Perbedaan Pandangan Politik
Perbedaan ini lantas membuat masing-masing mazhab mencari cara untuk memperkuat golongannya. Salah satunya adalah dengan cara memalsukan hadis. 
Misalnya:
علي خير البشر من شك فيه كفر 
         Ali merupakan sebaik-baik manusia, barangsiapa yang meragukannya maka ia telah kafir.[1]
Adanya Pihak Lain Yang Ingin Merusak Ajaran Islam
Golongan ini adalah terdiri dari golongan zindiq, yahudi, majusi, dan nasrani yang senantiasa menyimpan dendam terhadap agama islam. Mereka tidak mampu melawan kekuatan islam secara terbuka, maka mereka mengambil jalan dengan berpura-pura masuk islam. Dengan menyatakan masuk islam, mereka memiliki peluang-peluang, seperti menyerbarkan fitnah, mengorbarkan api permusuhan di kalangan umat islam sendiri, menciptakan keraguan terhadap ajaran islam dan merusak sumber ajaran islam dengan menyebarkan kebohongan.[2]
Menjilat Para Penguasa untuk Mendapatkan Hadiah atau Kedudukan.
Para pembuat hadis palsu pada golongan ini tujuannya adalah untuk dunia, yaitu agar lebih dekat dengan penguasa.[3] Contoh dari hal ini adalah kisah Ghiyats bin Ibrahim An-Nakha’i dengan Amirul Mukminin Al-Mahdi, tatkala ia masuk ke ruangan Amirul Mukminin dan menjumpai Al-Mahdi tengah bermain-main dengan burung merpati. Maka ia menambahkan (perkataan) dalam hadis yang disandarkan kepada Nabi bahwa beliau berkata:
لا سبق الا في نصل او خف او حافر او جناح
               Tidak ada perlombaan kecuali bermain pedang, pacuan kuda, burung merpati.
            Ia menambahkan kata merpati, yang ditujukan kepada Al-Mahdi, sementara Al-Mahdi mengetahui hal itu (menambahkan kata burung merpati untuk menyenangkannya). Segera Al-Mahdi memerintahkan untuk menyembelih burung merpatinya, seraya berkata: Aku yang menanggung beban atas hal itu.[4]
Membangkitkan Jiwa Beribadah Untuk Mendekatkan Diri Kepada Allah
Sebagian orang saleh dan zahid melihat ketersibukan umat islam terhadap dunia dan meninggalkan akhirat. Melihat hal itu, mereka kemudian membuat hadis-hadis palsu berkaitan dengan targhib (mendorong untuk berbuat baik atau kabar gembira) atau tarhib (mencegah dari berbuat jahat atau ancaman) dengan harapan orang-orang yang terlanjur sibuk dengan dunia tersebut dapat kembali mengingat akhirat. Dengan melakukan hal itu, mereka mengira bahwa mereka sudah berbuat baik. Padahal Nabi sudah mengingatkan: Barang siapa berdusta dengan sengaja atas diriku maka hendaknya ia mengambil tempat duduknya di neraka. Tapi anehnya, terkait hal ini mereka malah menjawab: Kami berdusta untuk Nabi, bukan terhadap beliau. Dalam hal ini, Yahya ibnu Sa’id Al-Qatthan berkata: Saya tidak melihat kedusataan pada diri seseorang lebih dari kedustaan yang disandarkan dengan sifat baik dan zuhud.[5]
Para Tukang Cerita
Mereka-mereka ini membuat hadis-hadis palsu agar orang-orang banyak yang datang untuk mendengarkannya bercerita. Semakin banyak orang yang datang, semakin banyak pula keuntungan berupa materi yang akan didapatkan darinya. Namun anehnya, walaupun yang disampaikan oleh mereka adalah hadis-hadis palsu, para tukang cerita tersebut tetap mendapatkan telinga-telinga yang mendengar, bahkan ada pula yang membenarkan dan membela mereka dari orang-orang bodoh yang tidak punya keinginan untuk meneliti dan mengecek kebenarannya.
Oleh karenanya, ulama-ulama hadis melarang murid-murid dan kawan-kawan mereka untuk duduk bersama dengan para tukang cerita tersebut serta melarang mereka untuk melanjutkan halaqah-halaqah bersamanya bagi yang sebelumnya sudah pernah mengikuti.
Salah satu contoh riwayat tentang kedustaan para tukang cerita adalah yang diriwayatkan oleh Abu Ja’far Muhammad Ath-Thayalisiy, beliau berkata: Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in shalat di Mesjid Ar-Rashafah. Kemudian ada seorang tukang cerita di hadapan jamaah berkata: Telah meriwayatkan kepada kami Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in, keduanya berkata: Telah meriwayatkan kepada kami Abdurrazaq dari Ma’mar dari Qatadah dari Anas, beliau berkata: Rasulullah saw bersabda:
من قال لا اله الا الله خلق الله من كل كلمة طيرا منقاره من ذهب وريشه من مرجان
Artinya: Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaha Illallah, maka Allah akan menciptakan satu burung dari setiap katanya, yang paruhnya dari emas dan bulunya dari marjan.
Mendengar hal itu, Ahmad bin Hanbal kemudian menoleh ke Yahya bin Ma’in, begitu pula Yahya bin Ma’in, dan bertanya: Benarkah kau menuturkan hadis seperti itu? Maka dijawabnya: Demi Allah, saya tidak pernah mendengarnya kecuali sekarang ini. Setelah tukang cerita tersebut selesai dengan uraiannya, Yahya memberi isyarat, dan ia pun datang, mengira akan mendapat hadiah. Kemudian Yahya bertanya kepadanya: Siapa yang menuturkan hadis kepadamu seperti itu? Dijawabnya: Ahmad bin Hambal dan Yahya bin Ma’in. Lalu Yahya menyahut: Saya ini Yahya dan itu Ahmad! Saya tidak pernah mendengar hadis Rasulullah seperti itu. Kalaupun hadis itu benar, pasti ia berasal dari selain kami.[6]    
                 


[1] Dr. Mahmud Thahan, Ilmu Hadis Praktis, (Bogor, Pustaka Thariqul Izzah, 2014)
[2] Drs. KH. M. Abduh Almanar. M. Ag., Pengantar Studi Hadis, (Ciputat, Referensi, 2012)
[3] Ibid
[4] Dr. Mahmud Thahan, Ilmu Hadis Praktis, (Bogor, Pustaka Thariqul Izzah, 2014)

[5] Drs. KH. M. Abduh Almanar. M. Ag., Pengantar Studi Hadis, (Ciputat, Referensi, 2012)

[6] Dr. Muhammad Ajaj Al-Khatib, Ushul Al-Hadis,(Jakarta, Penerbit Gaya Media Pratama Jakarta, 2007)