Al-Qur’an adalah mukjizat islam yang kekal dan mukjizatnya selalu diperkuat dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Ia diturunkan oleh Allah swt kepada Rasulullah saw. untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju jalan yang terang, serta membimbing mereka ke jalan yang lurus.[1]
Sejak awal kelahirannya, Islam
sudah memberikan penghargaan yang begitu besar terhadap ilmu pengetahuan. Penghargaan
Al-Quran tersebut dapat diketahui melalui analisis terhadap
wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad Saw:
Artinya: Bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu Yang meciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari
‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan
pena, mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq [96]: 1-5).
Wahyu pertama ini tidak
menjelaskan apa yang harus dibaca, karena memang Al-Quran menghendaki umatnya untuk
membaca apa saja selama bacaan tersebut dibaca dengan bismi rabbik,
dalam arti bermanfaat bagi kemanusiaan. Iqra memilki arti bacalah,
telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu: bacalah alam, tanda-tanda
zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis atau tidak. Alhasil, dari
hal itu kita bisa mengetahui bahwa Al-Quran sejatinya memberikan perhatian
besar terhadap ilmu pengetahuan, dengan objek yang mencakup segala sesuatu yang
dapat dijangkau oleh manusia.[2]
Lihat saja Al-Quran di situ ada satu surah
yang bernama al-Hadid atau besi. Dalam surah itu Tuhan memberi tahu kita bahwa
Dia “menciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan hebat dan bermanfaat
bagi manusia”. Di sini besi merupakan ‘metafora’ bagi teknologi yang bisa
dikembangkan sebagai sarana perlindungan terhadap alam dan sebab-sebab alam,
dari panas dan dingin, serta juga difungsikan untuk pertahanan militer.[3]
Kata ilmu sendiri di dalam Al-Quran
dengan berbagai bentuknya terulang sebanyak 854 kali. Kata ini digunakan dalam
arti proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan. Dalam pandangan
Al-Quran, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul terhadap
mahluk lain guna menjalankan tugas kekhalifahan. Ini tercermin dalam kisah
kejadian manusia pertama yang dijelaskan Al-Quran [4]
Artinya: Dan Dia mengajarkan
kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada
para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika
kamu memang benar orang-orang yang benar!”.
Allah berfirman: “Hai Adam,
beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya
kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Kukatakan
kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan
mengetahui apa yang kamu lahirkan dan
apa yang kamu sembunyikan?”
Karena Al-Quran sangat menekankan
pengetahuan dan penelitian ilmiah, lumrah jika masyarakat muslim klasik
berusaha menguasai ilmu pengetahuan kuno. Kekuatan pendorong utama di balik ruh
ilmiah peradaban muslim ini adalah konsep ijtihad atau pemikiran sistematis
yang didasarkan atas perintah Al-Quran untuk berpikir dan bernalar: “untuk
menggunakan akal mereka” [02:164], yang menjadi komponen utama dalam
pandangan-dunia klasik islam.[5]

0 Comments