Salah satu
dari tiang-tiang ajaran junjungan kita Nabi Muhammad Saw yang terpenting ialah:
menghargai akal manusia dan melindunginya dari pada penindasan yang mungkin
dilakukan orang terhadap nikmat Tuhan yang tiada ternilai itu. Bertebaran dalam
Al-Quran pertanyaan yang memikat perhatian, menyuruh orang menggunakan pikiran
dan mendorong manusia supaya mempergunakan akalnya dengan sebaik-baiknya:
“Tidakkah kalian berpikir?”
“Tidakkah kalian mempergunakan akal?”
“Tidakkah kalian memperhatikannya?”
Menurut
Harun Nasution, mempergunakan akal adalah salah satu dasar dalam beragama
Islam. Iman seseorang tidak akan sempurna jika tidak didasarkan pada akal.
Dalam Islam-lah, menurutnya, agama dan akal pertama kali bisa berdampingan.
Beliau juga meyakini
potensi akal harus dimanfaatkan untuk mencapai kemajuan umat Islam yang
terwujud dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan modern yang
berdasar kepada sunatullah, tidak
bertentangan dengan Islam. Kedua-duanya bersumber dari Allah. Islam mesti
sesuai dengan ilmu pengetahuan, demikian pula sebaliknya.
Bukalah
Al-Quran halaman mana saja! Sudah pasti akan dirasakan oleh tiap-tiap orang
yang membacanya, betapa besarnya dorongan islam untuk memakai akal dan
mempergunakan pikiran sebagai salah satu nikmat Tuhan yang tidak ternilai
harganya.
Melalui akal, lahir kemampuan menjangkau pemahaman sesuatu yang
pada gilirannya mengantar pada dorongan berakhlak luhur. Inilah yang dinamai
dengan al-‘aql
al-wazi’, yakni akal pendorong.
Islam
amat mencela orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya, orang-orang yang
menerima secara langsung apa-apa yang disampaikan terhadapnya tanpa memeriksa
akan benar atau tidaknya hal tersebut menurut Al-Quran dan Sunnah. Tegasnya,
islam melarang taklid buta.
Memang, kita umat muslim dituntut untuk percaya, tetapi kepercayaan
yang harus didukung oleh ilmu dan dikukuhkan oleh hati yang suci, bukan sekadar
percaya atas dasar pengamalan dan pengamalan leluhur. Bertebaran ayat yang
mengandung makna ini:
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,
semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra: 36)
Namun dalam beberapa
dekade belakangan ini kita akan mendapati sebuah fenomena penolakan yang
terkesan berlebihan terhadap akal dari sebagian umat islam. Sikap penolakan ini
muncul dari keyakinan bahwa betapapun kemuliaan posisi akal sudah disepakati,
ia memiliki kemungkinan untuk diganggu oleh nafsu, dalam hal ini adalah al-nafs
al-ammarah bi al-su (nafsu yang mendesak-desak untuk melakukan keburukan).
Di
samping itu memang, ada sementara ulama hadis yang menolak secara langsung
semua hadis yang berbicara tentang akal. Itu mereka nyatakan tanpa merinci alasan-alasan
ilmiah yang biasa digunakan ulama hadis ketika menilai kesahihan hadis. Ibnu
Qayyim, Ibnu Jauzi, dan lain-lain menegaskan bahwa semua hadis yang berbicara
tentang akal adalah palsu. Dan, besar kemungkinan pemikiran-pemikiran ulama
inilah yang mereka jadikan sebagai argumen untuk mendukung apa yang mereka (sebagian
umat islam tadi) lakukan.
Imam Daruquthni menyebut empat nama yang merupakan sumber utama
hadis-hadis itu dan yang dinilainya sebagai pembohong-pembohong. Dari satu sisi
harus diakui bahwa memang ada hadis-hadis Nabi yang bila terhadapnya dapat
dilakukan kritik sanad (rentetan perawinya), matan (kandungannya) yang harus
ditolak, tetapi itu bukan berarti menolak keseluruhannya, lalu atas dasar itu
menolak penggunaan akal.
Padahal bila melihat sikap Nabi Saw. atau ucapan-ucapan beliau
menunjukan kedudukan akal yang sangat penting. Perhatikanlah, antara lain
dialog beliau dengan Mu’adz bin Jabal, yang beliau tugaskan ke Yaman untuk
menangani urusan kaum Muslim di sana.
Nabi bertanya kepadanya: “Atas dasar apa engkau memutuskan perkara
jika engkau harus memutuskan?”
Mu’adz menjawab: “Aku memutuskan berdasarkan apa yang terdapat
dalam kitab Allah:Al-Quran.”
Nabi kembali bertanya: “Kalau engkau tidak menemukan di sana?”
“Dengan Sunnah Nabi Saw,” jawab Mu’adz.
“Kalau di Sunnah Nabi pun engkau tidak temukan?” tanya Nabi lagi.
Mu’adz menjawab: “Aku berijtihad atau berusaha dengan sungguh
menggunakan akalku tidak berlebih (dalam berijtihad).”
Mendengar jawabannya, Nabi Saw mengetuk dengan telapak tangan
beliau ke dada Mu’adz pertanda memberi persetujuan beliau. Lalu Nabi bersabda:
“Segala puji bagi Allah yang telah membimbing utusan Rasulullah
menuju apa yang diridhai Rasulullah. (HR. Ahmad, Abu Daud, dan At-Tirmizi).
Adapun Ibnu Taimiyah yang juga berbicara tentang akal dan terkesan
menilai hadis-hadis tentang ini lemah, dia pun sama sekali tidak menolak
penggunaan akal. Bahkan beliau menggunakannya dalam sekian banyak persoalan.
Penolakannya itu lebih terarah (sebagai kritik) terhadap akal yang dipahami dan digunakan oleh filsuf-filsuf Yunani dan
pemikir-pemikir Muslim yang menggunakannya serta terkagum-kagum dengan mereka.

0 Comments