Kau tahu, hari ini aku mengelola DAM Ciputat. Perkaderan yang dulu tak sengaja mempertemukan kita. 


Meski posisinya kali ini berbeda: dulu sebagai peserta, sekarang sebagai pengelola. Namun satu yang pasti, ingatanku soal DAM Ciputat selalu sama, yaitu dirimu. 


Dalam malam yang lengang, setelah seluruh peserta terlelap, aku tak sadar diajak berlari dengan nafas yang terengah-engah untuk membuka kembali memori itu. Memori yang menjadi awal bagi segala kerumitan kita hari ini. 


Dulu aku mungkin bisa mengutuk, kenapa harus DAM di Ciputat? Kenapa tidak di luar supaya bisa menuntaskan hasrat jalan-jalanku ke beberapa daerah di Indonesia. 


Sekarang aku tak kuasa lagi mengeluarkan kutukan itu. Kini perhatianku pada DAM Ciputat akan selalu dramatis dan romantis. Kali ini aku begitu menikmati dan menghikmati keputusan Tuhan yang “memaksaku” tetap DAM Ciputat. Sebab jika bukan karena DAM itu, mungkin takkan pernah ada “kita” yang kini sedang menempuh jalannya masing-masing. 


Aku tak tahu, apakah pandanganku yang dramatis dan romantis pada DAM Ciputat akan selalu ada tiap tahunnya? Sebab aku curiga perasaan itu hanya ada karena jaraknya yang tak terpaut terlalu jauh dari pertemuan kita dulu.


Tapi jelasnya, mulai kali ini dan hari ini, aku akan selalu bergembira jika diajak mengelola DAM Ciputat di tahun-tahun berikutnya. Karena ia bukan lagi hanya tentang merawat perkaderan, tapi juga merawat ingatan tentang “kita”.